KENDARI—Dilihat dari sisi historis, Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan.

Karena kondisi saat itu banyaknya organisasi pemuda yang men “daerah”. Adanya Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Java, dan lain-lain.

Pemuda dari berbagai daerah kemudian menjadikan Sumpah Pemuda sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Para pemuda tidak lagi berjuang dengan kelompok sendiri tetapi bersama-sama.

Demikian makna Sumpah Pemuda bagi Sahir Barakati, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari semester 11 kepada Warta Sultra, Jum’at (27/10/2017).

Sedangkan makna Sumpah Pemuda dengan kondisi kekinian, menurut Sahir adalah pemenuhan kembali rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap bangsa Indonesia oleh para pemuda di tengah hegemoni budaya dan pengaruh luar, melalui peran dan partisipasi aktif pemuda dalam perjalanan bangsa dalam berbagai hal.

Pemuda dan Narkoba

Sahir yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Forum Mahasiswa Nasional Anti Penyalahgunaan Narkoba (Sekjend-FORNASMAPAN) menyampaikan, semakin meningkatnya penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun sangat memprihatinkan, data Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait pengguna narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di tahun 2014 mencapai angka 22 persen pengguna narkoba di Indonesia yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa.

Sementara, jumlah penyalahgunaan narkotika pada anak yang mendapatkan layanan rehabilitasi pada tahun 2015, tercatat anak usia di bawah 19 tahun berjumlah 348 orang dari total 5.127 orang yang direhabilitasi di tahun itu.

“Sedangkan jumlah tersangka kasus narkotika berdasarkan kelompok umur pada 2015 yakni anak usia sekolah dan remaja di bawah 19 tahun berjumlah 2.186 atau 4,4 persen dari total tersangka,” jelasnya saat dihubungi Warta Sultra melalui aplikasi komunikasi online, Whatsapp.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu kondisi tersebut secara umum. Pertama, faktor pribadi yang mencakup mental yang lemah, depresi, ingin tahu dan coba-coba, mencari sensasi.

“Sedangkan faktor kedua adalah faktor keluarga, seperti keluarga berantakan, perceraian, kurang perhatian orang tua, pola didik orang tua, kurangnya komunikasi dan keterbukaan dalam keluarga,” lanjut lelaki kelahiran Raha ini.

Untuk faktor ketiga, menurut Sahir, adalah faktor sosial, dimana lingkungan dan pergaulan sosial sangat menentukan. Untuk faktor keempat, adalah faktor kelompok atau organisasi tertentu.

“Maksud saya, faktor kelompok atau organisasi tertentu tersebut adalah adanya teman yang mengedarkan narkoba, iming-iming keuntungan yang besar dan paksaan dari teman dalam komunitas,” imbuhnya.

Selain keempat faktor tersebut, faktor kelima adalah faktor ekonomi, yaitu kebutuhan mendesak yang berkaitan dengan uang.

Peran Pemuda 

Unit Kegiatan Mahasiswa Gerakan Anti Narkoba UHO Kendari hanyalah kelompok kecil dari penggiat anti narkoba di tengah masif-nya peredaran gelap narkoba di Sulawesi Tenggara (Sultra).

“Peran UKM GAN UHO lebih kepada wilayah Kampus Hijau itu sendiri. Maka dari itu, perlu adanya organisasi-organisasi serupa di tiap lingkungan kampus yang ada di Sultra. Agar para penggiat anti narkoba lebih menstrukturkan dirinya dalam upaya perang melawan narkoba,” tegas pemuda yang genap berusia 25 tahun pada 15 Februari 2017 lalu.

Menjiwai spirit Sumpah Pemuda, Sahir menyatakan bahwa penting bagi generasi muda Sultra untuk bersatu padu dan turut aktif berpartisipasi dalam kerja-kerja sosial dalam upaya pemberantasan narkoba di Sultra.

“Mengingat BNN Sultra mencatat 65,7 persen dari seluruh kasus penyalahgunaan narkoba berstatus pelajar dan mahasiswa,” tambahnya.

Pencegahan peredaran gelap narkoba bukan hanya tanggung jawab aparat dan BNN semata, tetapi menjadi tanggung jawab tiap lapisan masyarakat di Bumi Anoa.

“Untuk itu, perlu kerjasama dari berbagai elemen,” pungkasnya. (*SPA)

Perempuan kelahiran Surabaya berdarah Madura yang ingin menua di Sulawesi Tenggara. Penulis lepas. Pendiri dan pemilik Sari Management (2002), Pendiri dan Pemilik Sari Communication (2006). Pelaku bisnis online, Pendiri dan pemilik Warta Sultra. Pengasuh anjing dan kucing.

Leave a Reply

  • (not be published)