BERBAGI
Waode Zai Hamzari penjual kue manu-manu di Pasar Mina-Minanga/Foto: Arman

BUTON UTARA—Kue manu-manu (Kue burung-burung) merupakan salah satu kue khas Buton Utara (Butur). Kue tersebut banyak dijual di Pasar Mina-Minanga, Kelurahan Lakonea, Kecamatan Kulisusu.

Waode Zai Hamzari (71) salah seorang penjual kue manu-manu mengungkapkan bahwa disebut sebagai kue manu-manu karena bentuknya hampir menyerupai burung.

“Kami sebut sebagai kue manu-manu karena bentuknya yang menyerupai burung. Kue manu-manu ini merupakan kue yang harus ada saat ada acara haroa (Ritual baca doa), baik acara pernikahan, sunatan, doa arwah dan lain-lain,” ujarnya pada Warta Sultra saat ditemui di Pasar Mina-Minanga, Sabtu (1/09/2018).

Waode Zai menyampaikan, kue manu-manu bisa disimpan dan bertahan hingga berhari-hari. Kue tersebut dijual dengan harga 8.000 hingga 10.000 per bungkus.

“Kalau yang bentuk kuenya besar harganya 10.000 per bungkus bersisi 10 biji, kalau ukuran kecil 8.000 per bungkus berisi 10 biji,” tuturnya.

Ia mengaku, pendapatan menjual kue manu-manu setiap hari tidak menentu, tergantung dari banyaknya pembeli.

“Untuk pendapatan tiap hari tidak menentu, kalau banyak pembeli banyak juga untungnya kadang hingga mencapai 100.000 per hari. Biasanya yang paling banyak pembeli itu pada saat dekat puasa atau lebaran,” tukasnya.

Waode Zai berharap, agar Pemerintah Daerah Butur memperhatikan usaha-usaha kecil dengan memberikan bantuan modal. (*LAN)

Facebook Comments