BERBAGI
Masyarakat saat menabuh gendang pada acara Lulo Ngganda/ Foto: Akbar

KONAWE SELATAN—Lulo ngganda merupakan budaya adat istiadat masyarakat Suku Tolaki yang bermukim di Desa Benua, Kecamatan Benua, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Lulo ngganda tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang didapat.

Drs. R. Nasruddin Bende selaku tokoh adat Konsel mengatakan, Lulo Kanda berasal dari dua suka kata yaitu lulo dan ngganda, dimana kata lulo memiliki arti goyang sedangkan ngganda berasal dari kata kanda yang berarti gendang. Jadi lulo ngganda berarti goyang yang diiringi irama gendang.

“Lulo Kanda dilaksanakan setiap tahun pada bulan September selama tiga malam dan menampilkan berbagai jenis macam lulo kanda dan puncak perayaanya pada hari ke 4 setelah diturunkannya kanda dari rumah,” ujarnya pada Warta Sultra saat ditemui di lokasi kegiatan, Selasa (27/9/2019).

Di zaman dulu ada tujuh jenis macam lulo yang ditampilkan tetapi saat ini tinggal lima jenis lulo.

“Itupun yang selalu dilakukan hanya tinggal tiga saja karena generasi mudah saat ini sudah tidak mengetahui gerakan lulo yang sekarang sudah tidak diperagakan lagi,” sambungnya.

Lulo Kanda mulai dilaksanakan berdasarkan penanggalan Suku Tolaki yaitu saat munculnya 13 bulan di langit atau dalam bahasa Tolaki disebut tombara leanggia malam ke 14 yang disebut molambu dan malam ke 15 disebut mataomehe (bulan purnama).

“Lulo ngganda sendiri merupakan bentuk rasa syukur kita atas hasil panen yang didapatkan bahkan setiap gerakan jenis lulo lahir dari gerakan-gerakan baik selama memulai masa penanaman padi di ladang maupun saat panen. Gerakan-gerakan itu datang dari gerakan manusia dan binatang seperti burung titisu, makanya ada disebut lulo titisu,” jelasnya.

Tarian Lulo ngganda hanya ada di dua tempat yaitu di Desa Benua, Kecamatan Benua Kabupaten Konawe Selatan dan di Desa Ambekaeri, Kabupaten Konawe akan tetapi di Desa Ambekaeri sudah punah.

“Di Benua juga sedikit lagi baru punah karena anak muda sekarang sudah banyak yang tidak tahu gerakan-gerakan lulonya bahkan kegiatan-kegiatan pengisi acaranya saat puncak perayaan sudah banyak juga yang tidak dilaksanakan sebab sudah malas untuk belajar,” ungkapnya.

Nasruddin Bende juga mengatakan bahwa pemerintah kabupaten saat ini tidak ada bentuk perhatiannya dalam menjaga kelestarian tradisi.

“Kami berharap agar para generasi mudah dan pemerintah kabupaten juga lebih peduli dengan tradisi ini supaya tidak terjadi seperti yang terjadi di Ambekaeri,” pungkasnya. (*MAB)

Facebook Comments