BERBAGI
Kue bagea yang berbahan dasar dari sagu/Foto: Riki

KONAWE—Sagu pada umumnya dikenal sebagai bahan dasar untuk membuat sinonggi yang merupakan makanan khas suku Tolaki. Namun, saat ini sagu juga sudah banyak diolah sebagai bahan dasar membuat kue, seperti di Kabupaten Konawe. Salah satu kue yang berbahan dasar sagu tersebut adalah kue bagea.

Kursia (54) warga Kelurahan Kasupute, Kecamatan Wawotobi yang merupakan pembuat kue bagea mengungkapkan, untuk membuat kue bagea membutuhkan beberapa bahan dasar seperti, sagu, telur, terigu serta kelapa goreng agar kue bagea gurih.

Ia katakan bahwa untuk membuat kue bagea, sagu terlebih dahulu dijemur diterik matahari kemudian disangrai. Kemudian sagu tersebut dicampurkan dengan terigu secukupnya dan beberapa butir telur. Untuk membuat kue bagea agar terasa gurih maka adonan sagu dicampurkan dengan kelapa goreng.

“Usaha pembuatan kue bagea saya rintis sejak tiga tahun lalu. Saat ini kue bagea saya sudah mendapatkan sertifikat sebagai peserta konsultasi dan pemberkasan sertifikasi halal produk UMKM yang diselengarakan oleh Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah,” ujarnya pada Warta Sultra saat ditemui di kediamannya Kelurahan Kasupute, Sabtu (06/10/2018).

Kursia menuturkan, kue bagea miliknya dipasarkan di lapak miliknya yang berada di pasar tradisional Kecamatan Wawotobi serta Unaaha. Selain dijajakan di pasar, masyarakat sendiri yang datang membeli di rumahnya untuk di konsumsi sendiri dan sebagian dijual kembali.

Kue bagea milik Kursia juga tidak hanya dijual di Konawe, tetapi sudah menembus pasar Surabaya dan luar negeri.

Kursia pembuat kue bagea menunjukan sertifikat sebagai peserta konsultasi dan pemberkasan sertifikasi halal/Foto: Riki

“Orang datang membeli langsung di rumah dan dibawa ke Surabaya untuk dijual kembali. Selain di Surabaya, kue bagea ini juga sudah dijual di Malaysia,” tuturnya.

Untuk menjual kue bagea tersebut, Kursia menyimpannya dalam wadah platik yang diisi sebanyak 30 biji dijual dengan harga 5.000.  Selain menjual dalam bentuk wadah kecil, ia menjual kue miliknya dalam wadah yang berukuran besar.

“Saya menjualnya juga di tempat kue yang berukuran besar seperti kaleng biskuit khong guan dengan harga 60.000. Sementara ukuran toples kaca yang sedang dijual dengan harga 35.000,” jelasnya.

Dalam sebulan, Kursia mampu meraup keuntungan sedikitnya 500.000. Jika lebih banyak yang memesan keuntungannya lebih banyak lagi. Selain menjual kue bagea, ia juga menjual berbagai jenis kue kering lainnya.

Ia mengaku, kue bagea banyak diminati oleh masyarakat. Selain karena rasanya gurih, juga karena terbuat dari sagu yang merupakan makanan pokok. Dengan membuat kue bagea, Kursia mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anaknya.

“Dari penghasilan yang diperoleh, bisa digunakan untuk membiayai sekolah anak dan kebutuhan makan di rumah,” pungkasnya. (*LAN)

Facebook Comments