KENDARI—Asops Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Mayjen TNI Ganip Warsito melakukan pemeriksaan kesiapan operasi Satuan Tugas (Satgas) Pamtas RI-PNG Yonif 725/Woroagi. Dalam sabutannya, ia mengatakan, belajar dari keberhasilan Panglima Besar Jenderal Sudirman di setiap operasi melalui penerapan nilai luhur.

“Yaitu membiasakan sholat tepat waktu bagi yang beragama islam, membiasakan diri dalam keadaan suci, meyakinkan niat untuk bertugas dalam pribadi masing-masing untuk memelihara kebersihan hati,” ujarnya, Rabu (24/10/2018).

Ia sampaikan kepada seluruh Danpos dan Perwira Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 725/Woroagi agar para Perwira dan Bintara menguasai tugas dengan baik dan memberikan perintah kepada anggota degan jelas.

“Yakinkan bahwa anggota tersebut mengerti akan tugas dan kewajibannya untuk para Perwira dan Bintara yang akan menjabat sebagai Komandan Pos harus mampu memperdayakan serta mengendalikan satuannya,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, setiap individu prajurit menguasai dan mahir dalam melaksanakn Nikpursar secara aplikatif dan sebagian besar daerah operasi merupakan endemik penyakit malaria sehingga diperlukan adanya ketahanan tubuh yang kuat untuk dapat tinggal dan bertugas dengan baik.

“Terjadinya wabah penyakit malaria yang sangat berbahaya bila tidak segera ditangani. Kelalaian dalam melaksanakan tindakan pengamanan yang dapat merugikan anggota dan masyarakat yang lain,” tambahnya.

Ia mengatakan, dalam tugas ini prajurit harus menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit sehingga tugas yang diemban bisa membanggakan masyarakat. Prajurit harus memelihara enam kemampuan dalam melaksanakan tugas yakni  kemapuan menembak, kemampuan fisik, kemampuan bela diri, kemapuan teknik bertempur, kemampuan permildas, kemampuan teritorial.

“Jangan terlibat dalam kegiatan ilegal loging termasuk ikut terlibat sebagai backing dan tidak mudah terpengaruh oleh pemberian materi yang diberikan para penyelundup, harus punya prinsip terhadap setiap musuh membunuh atau dibunuh manakala menghadapi situasi yang sangat kritis. Jika aku harus mati saat ini, maka seribu musuhku harus mati di tanganku saat ini juga,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan agar  menghindari dan cegah pelanggaran sekecil apapun. Melakukan kegiatan ritual keagamaan secara terus menerus untuk mendoakan prajurit yang sedang melaksanakan tugas.

Kegiatan ini turut dihadiri Kasdam XIV/Hasanuddin, Brigjend TNI Budi Sulistijono, As Ops Kasdam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Leo Agung, Paban IV/Ops Sops TNI, Kolonel Inf Safrudin, Kadokbekpes Puskes TNI, Kolonel Ckm Adi Djadjadi.

Kahubdam XIV/Hasanuddin, Kolonel Chb Bambang Sugin.Pabandya 2/Staf II/Slog TNI, Letkol Cba Putra Usman Tanjung, Kasubidada Babek TNI, Letkol Cba Sirwani, Kasubag Pusbintal TNI, Letkol Inf Haidi Arief, Pabanda Renevsiops Sopsad, Mayor Inf Yuddo Kristianto.

Juga turut hadir Danrem 143/HO, Kolonel Arm Dedi Nurhardiman, Kasrem 143/HO, Letkol Inf Arif Susanto, Dandim 1417/Kendari, Letkol Cpn Fajar Lutvi Haris Wijaya, Danden Pomrem 143/HO, Letkol Cpm Rus’an, Danden Kesrem 143/HO, Letkol Ckm Jonaedi, Danden Palrem 143/HO, Letkol Cpl Suwadi.

Danden Hubrem 143/HO, Letkol Chb Moh Anwar, Kasi Opsrem 143/HO, Letkol Inf Yudi Rombe, Danyon 725/ Woroagi, Letkol Inf Hendry Ginting, Wadan Yon725/Woroagi, Mayor Inf Achmad R, Pasi Intelrem 143/HO, Kapten Inf Sundoyo para Dansat, Kabalak, Kasi, Pasi, Personel TNI Pa, Ba, Ta, Disjan Korem 143/HO, para Anggota Pa, Ba dan Ta Yonif 725/Woroagi. (*SR)

Hidup adalah belajar dari suatu kesalahan, dimana engkau akan tumbuh dan terbentuk, di situlah muncul suatu pendewasaan. Dimulai dari berkarir sebagai wartawan, saya berproses mencari suatu bukti yang konkrit menjadikan sebagai bacaan yang sederhana tapi bermanfaat bagi diri saya pribadi dan orang lain. Dengan hadirnya saya sebagai wartawan akan membawa perubahan dengan berita - berita yang faktual untuk Indonesia. dan Sulawesi Tenggara, terkhusus Buton Selatan.

Leave a Reply

  • (not be published)