BERBAGI

KONAWE—Sejak dibangun pada tahun 2001, Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Konawe tetap memaksimalkan proses belajar dengan sarana dan prasarana yang ada. Di Ponpes ini menggunakan kurikulum berbasis tauhid, dimana pelajaran umum dipadukan dengan  pelajaran yang ada di pesantren.

“Di sini ada namanya kurikulum berbasis tauhid, mata pelajaran umum dan mata pelajaran kepesantrenan yang dipadukan sehingga menjadi sebuah kurikulum berbasis tauhid, artinya semua muatan mata pelajaran ada kaitannya dengan Allah SWT,” ujar Ustadz Syarifudin, A.Ma selaku Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Konawe kepada Warta Sultra saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (25/10/2018).

Selain menggunakan kurikulum berbasis tauhid, Ponpes yang terletak di Jalan Nusa Indah Nomor 200, Kelurahan Toriki, Kecamatan Anggaberi ini juga menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) untuk pelajaran umum. Untuk proses belajar mengajar dilakukan sejak pukul 07:30 WITA hingga 12:00 WITA dan dilanjutkan selepas ashar hingga pada pukul 22:00 WITA.

“Untuk pelajaran umum dilaksanakan dari pukul 07:30 hingga pukul 12.00 WITA kemudian dilanjutkan selesai ashar hingga pukul 22.00 WITA itu kegiatan pembelajaran kepesantrenan,” jelasnya.

Ustadz Syarifudin, A.Ma selaku Ketua Ponpes Hidayatullah Konawe/Foto : Riki

Syarifudin mengatakan, selain santri yang mempunyai status sosial baik, Ponpes Hidayatullah ini juga mendidik santri yang sudah yatim serta santri status sosialnya tidak mendukung untuk menimbah ilmu pendidikan pada umumnya.

“Selain santri di Konawe, di sini ada juga terdapat santri yang dari luar Konawe seperti dari Nusa Tenggara Barat dan Buton. Semuanya merupakan santri dengan keterbatasan ekonomi dan juga anak yatim,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, setelah para santri selesai mendapat pelajaran dari guru, para santri mengisi waktu luang dengan membaca Alqur’an usai shalat ashar. Dan setelah selesai melaksanakan kegiatan tersebut, mereka menyetor berapa banyak hafalan yang telah mereka lakukan saat itu,”

Saat ini lanjut Syarifudin, untuk tingkat Sekolah Menegah Atas (SMA) belum ada di Ponpes Hidayatullah Konawe. Untuk melanjutkan jenjang pendidikan di tingkat SMA, para santri diarahkan untuk ke Kendari untuk menerima keterlambatan proses belajar sebelum ujian.

“Untuk proses administrasi pendaftaran ke jenjang SMA di sini dan dokumennya dikirim ke Kendari. Peserta didik tingkat SMA difokuskan ke arah hafidz saat berada di sini. Karena beberapa santri tidak mau ke luar untuk melanjutkan studi, maka kami mendaftarkan mereka ke SMA Hidayatullah Kendari dan selama di sini mereka hanya fokus ke penghafalan,” pungkasnya. (*SR)

Facebook Comments