BERBAGI

KENDARI—Prabowo Subianto dari hari ke hari semakin sulit dimengerti. Putra ekonom Soemitro Djojohadikusumo yang pernah menjadi menantu Jenderal Besar HM. Soeharto selaku Presiden RI ke-2 ini kerapkali isi pidato dan atau sambutannya menuai kontroversi.

Lelaki kelahiran Jakarta pada 17 Oktober 1951 ini lebih sering berpidato dan atau memberikan sambutan tanpa berbekal teks. Gayanya yang berapi-api, membuat mantan Komandan Jenderal (Komjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ini mendapatkan banyak pujian sebagai orator ulung, namun apalah arti semua itu jika akhirnya isi pidato dan atau sambutan berakhir melukai hati.

Sebut saja saat Prabowo memberikan pernyataan usai menghadiri upacara peringatan HUT RI ke-72 di Universitas Bung Karno Jakarta pada 17 Agustus 2017, dimana dalam sesi tanya jawab dengan awak media, Prabowo menyampaikan bahwa salah satu yang ia perjuangkan adalah kesejahteraan wartawan karena menurut Prabowo gaji wartawan juga kecil sehingga tidak bisa belanja ke mall. Pernyataan Prabowo yang menurutnya sekedar candaan tersebut tentu menuai pro dan kontra.

Hingga tulisan ini dibuat, lebih dari 25 ribu netizen (warga internet) yang menonton video milik Kompas TV tersebut.

Pernyataan Prabowo kembali menuai pro dan kontra ketika sebuah video viral (beredar luas dengan cepat) di media sosial, dimana dalam video tersebut terekam pernyataan Prabowo yang dianggap menghina masyarakat Boyolali. Sambutan tersebut disampaikan Prabowo pada saat peresmian posko pemenangan Prabowo-Sandi di Boyolali, Jawa Tengah, pada 30 Oktober 2018.

Lagi-lagi, mungkin menurut Prabowo pernyataan tersebut adalah candaan yang merupakan bagian dari sambutannya. Tetapi Prabowo lupa bahwa ia sedang bersaing memperebutkan kursi Presiden Republik Indonesia ke-8 bukan kursi Ketua Karang Taruna tingkat RT (Rukun Tetangga).

Prabowo tidak bisa terus menerus membela diri bahwa yang ia sampaikan adalah sebuah candaan dan menganggap kecaman masyarakat pada umumnya dan masyarakat Boyolali pada khususnya adalah bentuk mempolitisasi candaan Prabowo, atau dianggap terlalu didramatisir.

Seorang Presiden, salah satu yang dinilai oleh warganya dan juga dunia adalah kualitas dalam berpidato. Terbukti, gaya dan bahasa pidato Joko Widodo selaku Presiden RI ke-7 acapkali mendapat kritikan bahkan tak jarang cemoohan dari berbagai kalangan ketika dianggap gaya, bahasa, dan isi pidatonya belum sekelas pemimpin negara. Karena memang kemampuan berpidato sangat penting bagi seorang pemimpin negara.

Semoga Prabowo sadar, jika candaan dalam sambutan seorang capres saja bisa berdampak pada terlukanya sekelompok golongan dan munculnya aksi protes, apalagi jika dilakukan oleh seorang Presiden.

Tidak hanya menuai hujatan dan aksi protes, pidato “Tampang Boyolal” Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini dipastikan mengurangi perolehan suara dari Kabupaten Boyolali karena data mencatat, pada hari ini, Minggu (4/11/2018) Forum Boyolali Bermartabat berkumpul di Balai Sidang Mahesa Boyolali guna berkomitmen bersama untuk tidak memberikan suara pada Prabowo.

Dengan banyaknya janji kampanye pertahana yang belum direalisasikan, seharusnya Prabowo bisa memanfaatkan kondisi tersebut untuk menarik hati rakyat, tetapi Prabowo seperti kehilangan jati dirinya, Prabowo terlalu memaksakan diri tampil “kekinian”, dan akhirnya kebablasan.

Prabowo seolah tidak sadar, ia adalah capres yang dibayang-bayangi tuduhan pelaku penculikan aktivis pada tahun 1998. Prabowo seolah lupa bahwa karir militernya berakhir dengan pangkat letnan jenderal setelah diberhentikan oleh Dewan Kehormatan Perwira Angkatan Darat. Dimana catatan tersebut seringkali dijadikan senjata utama untuk menjatuhkannya.

Dengan catatan tersebut, bukanlah hal mudah untuk memenangkan Prabowo, terbukti Prabowo menikmati dua kali kekalahan di panggung pemilihan presiden dan atau wakil presiden.

Terlebih, karena faktor usia, Pilpres 2019 adalah Pilpres terakhir yang bisa diikuti oleh Prabowo Subianto. Seharusnya Prabowo lebih berhati-hati dan ada baiknya tidak perlu selalu memaksakan diri memberikan sambutan dan atau pidato tanpa teks, agar isi pidato dan atau sambutannya terkonsep dan tersampaikan dengan baik dan benar. Tidak perlu terlalu menggebu membentuk citra bahwa ia orator ulung. Cukup ciptakan saja citra sebagaimana ia apa adanya, bahwa ia capres yang berlatar belakang mantan Komjen Kopasus yang tegas, berwibawa, dan tertata sesuai data setiap pernyataan yang dibuatnya.

Toh untuk berperan kekinian dan lucu sudah dilakukan Sandiaga Uno dengan berpose aneh, berfoto dengan pete di kepala, dan memberikan tutorial selfi (swafoto) kepada kaum perempuan milenial yang mereka beri label emak-emak. (*SPA)

Facebook Comments