Sadar dengan tidaknya, selama ini Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) selalu dipimpin dengan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Banyak yang tidak mengetahui alasan sehingga Basarnas dipimpin yang berlatar TNI. Sebelum dinamakan sebagai Basarnas, lembaga ini bernama Basaris setelah itu berubah menjadi Basarnas.

Dari nama pertama hingga menjadi Basarnas, semua
pimpinan lembaga ini berlatar belakang TNI. Hal ini dikarenakan Basarnas merupakan sistem komando. Ketika TNI dijadikan sebagai pimpinana teratas, maka untuk mengomandoi di bawahnya lebih cepat dibandingkan dengan sipil.

Kantor SAR Kendari

Untuk Wilayah Sulawesi Tenggara, Basarnas berpusat di Kendari dengan membawahi beberapa unit bagian yakni SAR Wakatobi, Sar Bau-Bau dan SAR Kolaka. Basarnas Kendari dipimpin oleh Djunaidi, S.Sos., MM. Djunaidi sebelum berkecimpung di Basarnas, ia adalah seorang pelaut, dirinya merupakan lulusan Akademi Maritim.

Namun dorongan keluarga yang menginginkan dirinya untuk tidak lagi bekerja sebagai pelaut, sehingga ia meninggalkan pekerjaannya sebagai pelaut. Awalnya, Djunaidi lulus sebagai anggota Basarnas karena upaya sang istri yang mendaftarkannya pada lembaga tersebut.

Perjalanannya sebagai anggota Basarnas, Djunaidi yang diterima sebagai anggota Basarnas saat itu ditugaskan di daerah asalnya yakni Makassar, Sulawesi Selatan dengan gaji sebesar 375 ribu pada tahun 2001. Djunaidi ditempatkan sebagai nahkoda kapal 007 milik Basarnas dengan panjang 20 meter yang merupakan kapal terbesar Basarnas saat itu.

Djunaidi menjabat sebagai nahkoda kapal 007 selama enam tahun dan kemudian dipindahkan di Selayar, Sulawesi Selatan sebagai Kepala Koordinator Pos SAR dengan pangkat D3A selama lima tahun. Selama bertugas di Selayar, Djunaidi melanjutkan pendidikan S2 di Unisme dan selesai pada tahun 2009.

Setelah lima tahun, Djunaidi kemudian dipindahkan kembali ke Makassar dan ditempatkan di posisi non struktural yakni pendidikan dan pelatihan (Diklat) selama enam bulan. Setelah itu, ia kembali dipindahkan di lembaga struktural dan dipindahkan ke Gorontalo dan menjabat sebagai Kepala Seksi Potensi. Selama tiga tahun di Gorontalo, Djunaidi kembali dipindahkan di Ternate dengan jabatan sebagai Kepala Seksi Operasi.

Dari Ternate, Djunaidi kembali dikirim ke Batam, Tanjung Pinang dan menjabat sebagai Kepala Kantor SAR Tanjung Pinang bertugas kurang lebih selama enam bulan. Setelah enam bulan menjabat Kepala Kantor SAR Tanjung Pinang, Djunaidi dikirim di Kendari dan menjabat sebagai Kepala Kantor SAR Kendari hingga saat ini.

Riwayat Pendidikan

Djunaidi  mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Bawakaraeng Makassar dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah 1 Makassar. Saat menduduki bangku SMP 1 Muhammadiyah, ia mendapatkan pelatihan training center (TC). Saat naik kelas dua SMP, ia terpilih sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolah tersebut.

Setelah tamat, Djunaidi melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) 5 Makassar. Yang dimana SMA 5 Makassar ini merupakan SMA terfavorit. Djunaidi kembali terpilih sebagai Ketua OSIS di sekolah tersebut. Setelah tamat, Djunaidi sempat mencoba masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) namun tidak lulus. Setelah tidak lulus di Akabri, dirinya tidak berhenti begitu saja. Djunaidi kemudian melanjutkan pendidikannya di Akademi Kemaritiman pada tahun 1995.

Pengalaman Saat Bertugas

Pengalaman yang tidak terlupakan oleh Djunaidi selama berkarir di Basarnas yakni menyelamatkan korban, mengevakuasi korban meninggal dunia yang dimana korban tersebut sudah terpisah-pisah badannya, penyelamatan korban yang hampir meninggal namun masih bisa disematkan oleh tim SAR. Sejumlah operasi dan penyelamatan telah dilakukan oleh Kepala Basarnas Kendari ini. Di tempat tugas yang berbeda-beda, ia selalu melakukan yang terbaik dalam melaksanakan tugas.

Pengalaman yang tidak bisa dilupakan oleh alumni Akademi Kemaritiman ini saat bertugas di Ternate, yang dimana harus meneyelamatkan ratusan penumpang kapal di Wilayah Jailolo karena kapal yang ditumpangi oleh para penumpang pecah akibat dihantam ombak dengan ketinggian empat meter.

Dalam penyelamatan penumpang sejumlah 108 orang tersebut, Djunaidi turun langsung memimpin operasi tersebut dan berhasil menyelamatkan seluruh penumpang termasuk enam orang bayi dan anak buah kapal (ABK).

Tidak Ada Kata Gagal

Dalam menjalankan operasi biasanya ada yang berhasil dan ada tidak berhasil. Namun bagi Djunaidi dalam Basarnas tidak ada kata gagal yang ada hanya ketidak tepatan waktu begitupun juga dalam melaksanakan operasi. (*SR)

Mengawali karir di Warta Sultra sebagai wartawan, sempat berhenti untuk meyelesaikan pendidikan di Universitas Halu Oleo. Setelah mendapatkan gelar Sarjana Perikanan, melanjutkan tanggung jawab sebagai wartawan hingga akhirnya berhasil menempati posisi sebagai redaktur pelaksana sekaligus menjadi penanggung jawab kolom Jelajah Sultra.

Leave a Reply

  • (not be published)