Operasi Sikat Anoa yang dilakukan oleh Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Reserse Kriminal (Reskrim) berhasil mengungkap sejumlah kasus. Operasi Sikat Anoa ini dimulai dari tanggal 6 hingga 25 Nobember 2018.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kasubdit III Jatanras Polda Sultra, Kompol Robby Manusiwa saat melakukan konferensi pers di depan ruangan Reskrim Polda Sultra, Senin (3/12/2018).

“Operasi Sikat Anoa 2018 dimulai dari tanggal 6 hingga tanggal 25 November 2018 dengan hasil operasi total 264 dari beberapa jenis contohnya, miras (minuman keras, red), curamor, narkoba, judi, senpi, sajam dan lain-lain,” ujarnya pada awak media.

Hingga berakhir operasi sikat anoa, pihak Reskrim Polda Sultra  juga mengamankan 442 orang tersangka. Jumlah tersebut juga yang terbanyak dari kasus-kasus sebelumnya.

“Hasil keseluruhan, Polda Sultra berhasil mengungkap 264 sasaran kasus dengan jumlah tersangka 442,” sambungnya.

Ia sampaikan bahwa yang paling menonjol dari hasil operasi tersebut yakni minuman keras, sajam dan premanisme dengan rincian kasus yakni minuman keras 142 kasus, senjata tajam (sajam) 25 kasus serta premanisme 25 kasus.

Dari beberapa kasus tersebut ada sejumlah tersangka yang hanya wajib lapor dan diberikan surat teguran. Namun tersangka seperti kasus narkoba dan sajam dilakukan proses lebih lanjut. Sementara kasss prostitusi ada sembilan kasus dengan jumlah tersangka yakni 44 orang dan kasusnya saat ini ementara berlanjut.

“Tersangkanya laki-laki dan perempuan. Saat ini sudah diproses,” jelasnya.

Selain itu, Polda Sultra juga berhasil mengungkap kasus usaha pemalsuan dokumen. Pengungkapan tersebut terjadi pada tanggal 22 November 2018 tepatnya di Jalan Syekh Yusuf tepatnya di depan STIE 66 Kendari berkat dari penyelidikan Subdit Resmob Diskrimum Polda Sultra.

“Kami berhasil mengamankan lima orang tersangka berinisial RC, MN, AA, LA dan MD. Jadi tersangka utamanya yakni RC, ia yang membuat desain, mengedit dan membuat surat-surat atau dokumen-dokumen untuk keperluan pengajuan kredit oleh debitur,” ungkapnya.

Dari tempat kejadian perkara (TKP) pihak Polda Sultra berhasil mengamankan 350 buah NPWP. Kata Kompol Roby Manusiwa bahwa ratusan NPWP tersebut merupakan NPWP asli namun pengurusannya didukung dengan surat-surat atau dokumen-dokumen palsu.

“NPWP ini dibuat didukung dengan dokumen palsu sebagai persyaratan dan persyaratan itu semua dipalsukan oleh saudara SC. Sedangkan empat tersangka lainnya itu sebagai pemesan dokumen-dokumen palsu ini untuk kebutuhan debitur,” terangnya.

Lebih lanjut Kompol Robby Manusiwa mengatakan bahwa menurut keterangan dari tersangka, setiap satu lembar surat palsu, tersangka mendapatkan sepuluh ribu rupiah. Sedangkan pengurusan NPWP hingga dengan penerbitannya sekitar 150 ribu rupiah. Alasan daripada pemesan surat-surat palsu tersebut yakni untuk keperluan debitur. Usaha pembuatan surat-surat palsu tersebut dari pengakuan tersangka dimulai dari tahun 2010.

“Dari kelima tersangka tersebut kami kenakan Pasal 266 KUHP sub Pasal 264 KUHP dan 263 KUHP Junto Pasal 55 ayat 1 dengan ancaman hukuman delapan tahun penjara,” pungkasnya. (*SR)

Mengawali karir di Warta Sultra sebagai wartawan, sempat berhenti untuk meyelesaikan pendidikan di Universitas Halu Oleo. Setelah mendapatkan gelar Sarjana Perikanan, melanjutkan tanggung jawab sebagai wartawan hingga akhirnya berhasil menempati posisi sebagai redaktur pelaksana sekaligus menjadi penanggung jawab kolom Jelajah Sultra.