Dedi Suryanto (30) salah satu pemuda asal Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) berhasil membuka usaha minuman sari tebu sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan untuk remaja Konsel. Ia membangun bisnis minuman Es Tebu Barokah ini dengan modal awal sebesar sepuluh juta rupiah. Dedi Suryanto mengaku bahwa ia memilih keluar dari profesinya sebagai guru honorer untuk lebih fokus ke bisnisnya yang ia bangun dari tahun 2017 ini.

Pada awalnya ia berjualan sendiri di pinggiran jalan dengan ditemani satu set alat pres batang tebuh serta mobil bak terbuka miliknya. Saat pertama memulai usahanya, ia masih berstatus sebagai guru honorer di Madrasyah Aliyah Negeri (MAN) 1 Konsel sebagai guru mata pelajaran agama selama lima tahun.

Saat ini, dari hasil usahanya ia mampu meraup untung 60 juta dalam sebulan dengan tujuh cabang yang disebar di beberapa titik di Kota Kendari seperti di Bundaran Gubernur yang mengarah ke Kantor Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), depan Hotel Liras Andonohu, depan gerbang Masjid Al-Alam, depan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan beberapa titik lainnya.

“Dulu saya merintis sendiri sekitar kurang lebih setahun sejak 2017 menggunakan mobil yang saat ini digunakan adik untuk berjualan,” jelasnya kepada Warta Sultra saat ditemui di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kecamatan Baruga, Senin (3/12/2018).

Berlatar belakang sarjana pendidikan tentu dirinya tidak sama sekali mempunyai pengetahuan terkait sistem berdagang. Awal berjualan, ia tidak hanya sekedar berjualan begitu saja namun perlahan-lahan mempelajari bagaimana berbisnis dengan baik.

“Tidak hanya berdagang, saya juga mempelajari konsep seperti mempelajari perhitungannya serta mendengar tanggapan masyarakat terhadap produk saya dan setelah merasa bahwa bisnis ini menjanjikan, akirnya saya memutuskan berhenti dari profesi saya,” ujarnya.

Setelah mendalami cara dalam berdagang, di tahun kedua ia mulai melebarkan sayap dengan cara bermitra dengan remaja-remaja yang ingin mencari penghasilan lebih.

“Di tiap cabang yang tersebar tersebut penjaganya yaitu mitra dagang dengan sistem gaji berupa persen. Dimana, untuk mitra yang lama bagi persennya 70 saya dan 30 mmitra serta untuk mitra baru yaitu 75 saya dan 25 mitra. Akan tetapi, yang utama saya harus bermitra dengan petani tebu terlebih dahulu, sebab di sini (Kendari, red) tidak ada tebu,” sambungnya.

Ia mengaku, kendala utama yang dihadapi yaitu di wilayah Kendari tidak ada tebu tidak seperti di Jawa. Tebu juga mempunyai umur yang panjang yaitu setahun dan untuk menjual sepanjang tahun maka harus sedia lahan tebu yang luas.

Di wilayah tempat ia tinggal tepatnya di Kecamatan Konda, Dedi, sapaan akrab Dedi Suryanto mengatakan, para petani tempat ia menjalin kerjasama pada awalnya merupakan petani yang lebih memilih menanam palawija seperti jagung. Awalnya ia menawarkan dan para petani menolak dengan alasan jika mereka menanam dan tidak dibeli tentu mereka akan rugi. Sehingga ia mengajak keluarganya untuk menanam bibit tebu.

Setelah keluarganya memanen tebu dan para petani sekitar mengetahui bahwa hasil yang didapatkan oleh keluarganya sangat menjanjikan, petani yang sebelumnya menolak akhirnya berlomba-lomba mulai menanam tebu. Karena saat ini Dedi mempunyai tujuh cabang usaha sehingga lahan yang ia butuhkan minimal empat hektar.

Ia juga mengaku bahwa untuk saat ini lahan yang ada seluas satu hektar setengah dan masih membutuhkan sekitar dua hektar setengah. Ia dan para petani rencananya pada akhir tahun ini akan menanam tebu seluas tiga hektar setengah.

“Bibit diperoleh langsung dari Jawa dan dikebangkan di sini. Dimana, setiap petani yang bermitra mendapatkan bibit tebu secara gratis tetapi harus kontrak harga dengan perjanjian bahwa harga untuk batang tebu besar sekian dan kecil sekian dan saat panen saya berkewajiban membeli hasil panen mereka dengan catatan bahwa mereka tidak diperkenankan menjual ke orang lain. Sebab, saya memperkirakan bahwa usaha ini nantinya akan banyak yang meniru,” jelasnya.

Saat ini para petani yang bermitra dengan dirinya dan mendaftarkan lahan mereka dengan luas lahan yang bervariasi yaitu ada yang setengah hektar, satu hektar, dan seperempat hektar. Lebih lanjut ia mengungkapkan, dengan tujuh cabang tersebut sebenarnya bahan baku utama yaitu tebu tidak mencukupi. Untuk itu, ia mencari lahan tebu di luar mitra seperti Konawe. Ia juga mengaku, untuk menanam bibit tebu di satu lahan tidak bisa dilakukan secara langsung, harus bertahap. Sebab, tebu yang digunakan untuk minuman sari tebu tersebut harus mempunyai manis yang sedang.

“Tebu yang tua cocok untuk dijadikan gula. Jika untuk minuman, manisnya harus sedang dan airnya banyak karena kami berharap pada airnya. Sebab, tebu yang tua memiliki kandungan air yang sedikit,” sambungnya.

Untuk satu batang tebu dengan panjang sekitar dua meter mampu menghasilkan sari tebu sebanyak tiga gelas tergantung besar kecil batang tebu tersebut. Ia menyebutkan, setiap cabang yang tersebar dalam sehari mampu meraup untung sekitar enam puluh juta rupiah per bulannya.

“Untuk musim kemarau, untung yang diperoleh dalam setengah hari berjualan bisa sekitar enam puluh juta lebih dan untuk musim hujan sekitar dua puluh hingga tiga puluh juta lebih. Itu dari hasil tujuh mesin. Setiap mitra yang bergabung untuk jualan, saya menanggung mesin serta perlengkapan lainnya. Jadi mereka tinggal berjualan saja dan mendapatkan gaji dari hasil yang mereka jual dengan perhitungan persen. Semakin banyak omset jualan maka semakin tinggi pula gaji mereka dan bisa mencapai tiga juta per bulan,” pungkasnya. (*SR)

Bergabung di Warta Sultra sejak bulan Juli 2018, tercatat sebagai salah satu dari Warta Sultra angkatan ketiga bersama sepuluh wartawan muda lainnya. Kerasnya tempaan dan perjuangan di Warta Sultra, Riki Adriawan S.Pd menjadi salah satu wartawan muda yang masih bertahan menjalankan tanggung jawabnya sebagai wartawan muda hingga saat ini.