Palang Merah Indonesia (PMI) kerap kekurangan stok darah. Pasalnya, kebutuhan darah sangat tinggi, di Provinsi Sulawesi tenggara misalnya, dalam setiap bulan kebutuhan cairan tubuh tersebut mencapai 2.000 kantong untuk setiap bulannya.

Hal tersebut disampaikan oleh Dedy Arman selaku Kepala Tata Usaha Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Sultra. Ia mengatakan bahwa kebutuhan darah di Sultra cukup tinggi mengingat banyak pendatang yang masuk ke Sultra.

“Kami telah melakukan evaluasi akhir-akhir ini. Untuk Sultra butuh sekitar 2.000 kantong darah baru bisa aman untuk setiap bulannya,” ujarnya kepada Warta Sultra saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/12/2018).

Ia mengungkapkan bahwa untuk Kota Kendari saja membutuhkan sekitar 900 kantong darah, angka ini bersifat fluktuatif (naik turun), kadang ada dari keluarga pasien rumah sakit di Kendari yang datang marah ke Unit Transfusi Darah dikarenakan terkadang datang mencari darah, stok darah lagi kosong.

“Kebutuhan darah ini memang harus direspon serius oleh pihak-pihak tertentu, misalkan rumah sakit, seharusnya pihak rumah sakit itu melakukan diagnosa awal terkait kebutuhan darah dan ketika darah sudah bisa dideteksi dan positif butuh darah, harusnya segera diinformasikan ke pihak kelurga pasien agar ketika di PMI lagi kosong segera mencari alternatife pendonor untuk kebutuhan darah tersebut. Intinya adalah komunikasi yang baik dri pihak rumah sakit kepada keluarga dan PMI tentunya,” terangnya.

Dedy Arman mengatakan,  jenis darah yang paling banyak dibutuhkan saat ini yakni golongan darah A dan O. Pihaknya juga sangat mengapresiasi kesadaran dan pemahaman masyarakat yang sukarela menyumbangkan darahnya. Pada beberapa minggu yang lalu pihaknya pergi hingga ke Sulawesi Tengah, tepatnya di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengikuti aksi donor darah di kantor PMI Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali karena PT IMIP tiap tahunnya melakukan donor darah.

“Yang terkumpul sekitar 279 kantong darah, hal tersebut sangat baik sekali,” sambungnya.

Pihaknya juga mengakui bahwa saat ini PMI Sultra kekurangan blood bank refrigerator (mesin pendingin bank darah). Alat ini merupakan sistem penyimpanan yang sangat diperlukan. Alat tersebut banyak sekali manfaatya, seperti penyimpanan obat, vaksin, sampel penyakit dan tentunya kantong cadangan darah. Mesin pendingin bank darah sering digunakan untuk membuat darah tetap awet. Sistem pendingin ini berbeda dari kulkas biasa karena dapat menghasilkan suhu lebih dingin dan memiliki sistem pelindung khusus.

“Ketika melakukan pengiriman darah ke daerah-daerah yang membutuhkan waktu yang cukup lama, seperti di Wakatobi misalkan, setelah diperkirakan tidak bisa dipakai, kami tidak akan mengirim ke sana karena pasti darah itu akan rusak dengan pengiriman yang memelurkan waktu yang lama. Solusinya adalah pasien harus dirujuk ke tempat yang bisa dijangkau oleh PMI,” ungkapnya.

Idealnya, lanjutnya, secara periodik laki-laki dan perempuan bisa mendonor dalam waktu tiga bulan sekali. Dalam periode itu sudah terbentuk sel darah merah. Sel darah merah sendiri hanya hidup selama 120 hari, kemudian mati. Karena seharusnya darah didonorkan sebelum mati dan ketika manusia sudah ambil sel darah tuanya, sel darah itu akan tumbuh lagi menjadi sel darah yang baru yang akan membuat pendonor merasa segar. Oleh karena itu, pihaknya menghimbau kepada seluruh masyarakat Sultra untuk melakukan donor darah.

“Aktivitas donor darah ini tidak hanya sekadar untuk memberi kesehatan bagi orang-orang yang melakukan donor darah, namun juga menolong manusia yang lain yang sedang membutuhkan darah,” pungkasnya. (*SR)

Seorang pengemis ilmu yang terus ingin berkarya dan ingin menjadi wartawan profesional di masa depan. Pemuda kelahiran Maluku berdarah Wakatobi ini wartawan Warta Sultra untuk wilayah Kendari.