Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya bahwa Dedi Suryanto (30) berhasil membuka usaha minuman sari tebu sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) khsusunya para petani tebu. Dalam menjalani usaha sari tebu ini yang menjadi kendala yakni kurangnya tebu di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Berita Terkait: Mantan Guru Honorer Ini Mampu Membuka Lapangan Pekerjaan dalam Usaha Sari Tebu

Dengan demikian, mantan guru honorer di Madrasyah Aliyah Negeri (MAN) 1 Konsel  ini mengajak masyarakat Desa Alebo, Kecamatan Konda, Kabupaten Konsel bekerjasama dalam hal penanaman tebu di wilayah tersebut. Yang dimana, masyarakat Desa Alebo dalam keseharian mereka sebagian besar berprofesi sebagai petani. Mereka merupakan petani yang menanam sayur-mayur seperti bayam, kembang kol. Selain sayur ada juga ubi dan kacang serta buah-buahan seperti jagung dan jeruk.

Hasil pertanian di desa tersebut sudah dipasarkan di beberapa wilayah seperti Kota Kendari. Muhammad Dhofir (53) salah satu petani di Desa Alebo mengatakan, saat ini selain menanam sayur-mayur dan buah-buahan juga menanam tebu.

“Jenis tanaman tebu baru sekitar kurang lebih satu bulan menanam dan sudah sekali panen,” ujarnya kepada Warta Sultra saat ditemui di lahan tebu miliknya di Desa Alebo, Rabu (5/12/2018).

Ia mengatakan bahwa alasan dirinya mulai menanam tebu dikarenakan sebelumnya tanaman tersebut tidak pernah terlihat di salah satu lahan. Sehingga ia berkeinginan menanam tebu. Sebab, bibit tebu sudah disediakan oleh pemilik usaha Es Tebu Barokah yaitu Dedi Suryanto asal Desa Alebo.

“Awalnya ragu untuk menanam tebu saat ditawari oleh Pak Dedi. Tetapi setelah ikutserta memanen tebu di lahannya dan mengetahui modal yang dikeluarkan tidak begitu besar akhirnya saya mulai menanam sejak saat itu,” sambungnya.

Saat ini luas lahan tebu miliknya sekitar duapuluh lima are. Kata Muhammad Dhofir, saat ini ia akan menanam lagi sehingga genap limapuluh are.

“Saat panen tebu bulan sembilan lalu dan omset yang saya dapatkan sekitar 500 hingga 10 juta. Dimana hasil bersih sekitar 500 hingga sembilan juta setelah dipotong biaya pupuk dan lain-lain,” jelasnya.

Untuk proses panen berikutnya, Muhammad Dhofir mengatakan bahwa sekitar bulan tiga dan empat di tahun 2019. Kerana tebu membutuhkan proses yang panjang untuk dipanen, sekitar lima bulan setelah panen.

Lebih lanjut ia mengatakan, dalam sekali panen, batang tebu tidak langsung dipotong selurunya tetapi bertahap dan memakan waktu selama satu bulan hingga akhirnya seluruh tebu yang bisa dipanen telah habis dan hanya menyisahkan tebu muda.

“Untuk satu rumpun tebu berjumlah lima sampai duabelas batang,” ungkapnya.

Muhammad Dhofir menjelaskan, hal baik dalam menanam tebu tidak hanya omset yang didapatkan akan tetapi ketersediaan bibit. Untuk mendapatkan bibit secara gratis, terlebih dahulu pihak pembeli mengadakan kontrak dengan dirinya.

Dimana, perjanjian tersebut berisi bahwa setelah panen, tebu miliknya harus dijual ke pemberi bibit dalam hal ini Dedi Suryanto dengan harga per batang yang telah ditentukan kedua bela pihak.

“Saya senang karena bibit tebu diberikan secara gratis dan pemberi itu juga yang membeli tebu saya saat panen,” tuturnya.

Muhammad Dhofir berharap, kerjasama ini dapat berlangsung lama. Sebab, ia pribadi sangat bersyukur dengan kerjasama tersebut karena mampu menambah penghasilan. Kini ada beberapa petani yang ingin bermitra seperti dirinya setelah melihat hasil dari panen yang ia peroleh. Demikian Muhammad Dhofir mengakhiri. (*SR)

Bergabung di Warta Sultra sejak bulan Juli 2018, tercatat sebagai salah satu dari Warta Sultra angkatan ketiga bersama sepuluh wartawan muda lainnya. Kerasnya tempaan dan perjuangan di Warta Sultra, Riki Adriawan S.Pd menjadi salah satu wartawan muda yang masih bertahan menjalankan tanggung jawabnya sebagai wartawan muda hingga saat ini.