Pada bulan November 2018, Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami peningkatan tekanan inflasi dengan mencapai sebesar 0,32 persen dibandingkan dengan capaian inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,20 persen.  Dengan demikian, inflasi Sultra secara tahunan tercatat sebesar 2,98 persen, capaian tersebut lebih rendah dari inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,23 persen dan berada pada target inflasi tahun 2018 sebesar 3,5 persen. Secara spasial,inflasi disebabkan oleh inflasi yang terjadi di Kota Kendari maupun Kota Bau-Bau dengan capaian masing-masing sebesar 0,28 persen dan 0,42 persen.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Perwakilan BI (Bank Indonesia) Sultra, Minot Purwahono. Ia mengatakan bahwa peningkatan tekanan inflasi yang terjadi pada periode tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan tekanan inflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan dan sandang.

Dimana, bahan makanan tercatat mengalami inflasi sebesar 0,79 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian inflasi pada periode sebelumnya sebesar 0,43 persen. Peningkatan curah hujan yang signifikan pada sentra penghasil sayur-sayuran di Konawe Selatan dan Kota Kendari menyebabkan terjadinya penurunan produksi yang mendorong peningkatan harga pada beberapa jenis sayuran.

Minot Purwahono menjelaskan beberapa penyebab terjadinya peningkatan tekanan inflasi pada periode ini, misalkan kacang panjang dan terong panjang yang mengalami inflasi masing-masing sebesar 9,20 persen dan 4,51 persen.

“Kondisi cuaca yang kurang kondusif juga berdampak terhadap peningkatan harga beberapa jenis ikan seperti ikan kembung yang mengalami inflasi sebesar 2,42 persen, ikan layang 0,63 persen, ikan cakalang 0,75 persen (mtm) dan ikan rambe 1,52 persen,” ujarnya melalui pers rilis yang diterima Warta Sultra, Rabu (5/12/2018).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa peningkatan tekanan inflasi juga terjadi pada komoditas beras yang disebabkan oleh tingginya permintaan dari luar Sultra dan telah usainya masa panen di luar Sultra. Dimana, pada periode tersebut beras tercatat mengalami inflasi sebesar 0,63 persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 0,58 persen.

Selain komoditas bahan makanan, Kepala Perwakilan BI Sultra mengatakan, inflasi pada November 2018 juga didorong oleh peningkatan permintaan dan perubahan harga pada kelompok sandang seperti celana jeans panjang.

“Namun demikian, peningkatan tekanan inflasi tersebut tertahan oleh penurunan tekanan inflasi yang terjadi pada lima kelompok inflasi lainnya, yaitu kelompok makanan jadi, kelompok perumahan, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan dan kelompok transportas,” jelasnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sultra bersama dengan TPID kabupaten dan kota terus berkoordinasi untuk mencermati perkembangan harga di pasar khususnya harga komoditas bahan makanan menjelang akhir tahun.

“Pemantauan dan koordinasi dengan pihak maskapai penerbangan dan otoritas bandar udara juga akan dilakukan untuk memastikan ketersediaan penerbangan dan menjaga volatilitas harga tiket pesawat. TPID akan berupaya untuk memastikan ketersediaan stok guna menjaga kestabilan harga beras di Sultra,” pungkasnya. (*SR)

Seorang pengemis ilmu yang terus ingin berkarya dan ingin menjadi wartawan profesional di masa depan. Pemuda kelahiran Maluku berdarah Wakatobi ini wartawan Warta Sultra untuk wilayah Kendari.